Ucapan pada Kelahiran Bayi

fir A rif

Di dalam buku “Menyambut Si Buah Hati” yang ditulis oleh Salim Rasyid Asy-Sybii dan Muhammad Khalifah (terbitan Ash-Shaf Media, Halaman 30-31), penulis buku tersebut mengatakan :
“Tidak terdapat satu hadits pun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ucapan selamat, dan tidak ada sesuatu pun kecuali atsar yang diriwayatkan dari para tabi’in.”

Di antaranya :
Dari Hasan Al-Bashri rahimahullah, bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Bagaimana cara saya mengucapkan ucapan selamat (kelahiran)?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah olehmu, “Ja’alallaahu mubaarakan ‘alayka wa ‘ala ummati Muhammadin” (“Semoga Allah menjadikannya anak yang diberkahi atasmu dan atas umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”).”
(Atsar ini hasan, dikeluarkan oleh Imam Thabrani)

View original post 166 more words

Blue Memories

_
–>

Riza Keane Winanda. Aku mengenalnya saat masih SMA. Dia adalah teman kakak Kayla, sahabatku. Kami pertama kali bertemu saat aku berada di rumah Kayla. Saat itu dia berada di sana untuk mengerjakan tugas kelompok dengan teman-temannya. Kayla mengenalkan dia dan teman-teman kakaknya padaku. Awal bertemu, aku langsung suka padanya. Dia ramah dan selalu tersenyum.

Hari-hari selanjutnya, aku mulai berteman dengannya. Dan pertemanan kami terus berlanjut hingga saat itu. Semakin lama aku mengenalnya, semakin aku tertarik padanya. Dia adalah pribadi yang hangat dan dewasa. Ada saatnya aku melihatnya bermain dengan anak-anak kecil yang dia temui. Di lain waktu, aku melihatnya bekerja sambilan di coffee shop di sela-sela jadwal kuliahnya yang padat. Keane tinggal sendirian. Dia sangat mandiri. Kedua orang tua dan kakak perempuannya tinggal di Jerman.

Keane selalu membagi senyumnya untuk semua orang. Membuat suasana menjadi lebih ceria. Aku menyukai senyumnya yang tulus dan sikapnya yang hangat. Keane juga pandai menggambar sketsa. Sketsanya banyak ditampilkan di surat kabar dan majalah.

Lambat laun aku menyadari hanya dia yang terlihat di mataku, yang memenuhi hati dan pikiranku. Hanya dia sosok yang selalu kucari.

Kedekatanku dengannya merupakan hal yang luar biasa. Aku merasa dia juga menyukaiku. Tanpa pernyataan, kami menjadi sepasang kekasih begitu saja. Tanpa kata cinta, kami saling mengasihi dan menjalani hidup bersama. Tapi terkadang aku berfikir, akankah kami selalu bersama hingga akhir? Satu pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya sebelum aku menjalaninya.

Salah satu hari yang indah dalam hidupku. 13 Maret. hari itu, aku dinyatakan lulus sidang. Untuk merayakannya dia mengajakku ke sebuah atap gedung pencakar langit.

“Quinn, bintang terlihat sangat dekat, bukan?”, tanyanya sambil menatap langit.

“Ya, sangat dekat dan sangat indah…”, jawabku sambil tersenyum.

“Kurasa aku bisa mengambil salah satunya untukmu. Lihat!!”

Dia menjulurkan tangannya ke atas, meraih angin lalu menggenggamnya. Membawanya ke hadapanku. Begitu ia membuka telapak tangan, sebuah cincin sederhana tampak berkilau di hadapanku.

“keane,,,”

Dia tersenyum lembut sambil meraih tanganku dan memasangkannya di jari manisku.

“sekarang kau milikku”, ucapnya lalu mencium keningku.

Aku tidak bisa mengatakan apapun. Perasaan ini terlalu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Satu hal yang pasti. aku bahagia.

Waktu demi waktu pun berlalu. Keluarga kami pun sudah menyetujui meskipun sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengan keluarga Keane karena mereka tinggal di Jerman. 2 bulan lagi pernikahanku dengannya akan dilaksanakan. Tapi anehnya akhir-akhir ini dia sering membatalkan janji untuk bertemu denganku. Bahkan saat aku pergi ke ruangannya di kantor tempatnya bekerja, dia tidak ada di sana. Aku sudah mengiriminya desain undangan pernikahan kami tapi tidak ada respon dari dia. Akhirnya aku mengirim sebuah pesan ke dia.

To : Keane

keane, aku tadi ke ruanganmu. Aku bermaksud untuk makan siang bersama tapi sepertinya kau sedang sibuk. Jadi kutinggalkan makanannya di mejamu. Selamat makan. Semoga kau menikmatinya.

Hari berikutnya adalah hari yang sudah kami rencanakan untuk melihat rumah baru kami. Tapi dia lagi-lagi membatalkan janjinya. Aku sedih. Tentu saja. Aku merasa dia mulai menjaga jarak denganku. Rasanya dadaku sangat sesak. Air mata ini siap keluar dan menetes

Tanpa kusangka beberapa hari kemudian aku benar-benar tidak bisa menghubungi dia. Kudengar dari tetangga dan teman-teman kantornya dia pergi ke Amerika bersama seorang gadis, Jessi. Aku juga mengenal gadis itu. Dia adalah teman dekat sekaligus teman kerja Keane. Teman-temannya juga tidak tahu alasan kepergian Keane yang tiba-tiba itu.

Dadaku sesak mendengarnya. Mengapa dia tiba-tiba pergi meninggalkanku tanpa kabar di saat hari pernikahan kami sudah dekat? Aku menggigit bibirku untuk menahan tangisku. Kepergiannya yang tanpa kabar bersama gadis lain membuat hatiku sakit. Semua yang kuimpikan tentang masa depan kami hancur.

1 tahun setelah dia meninggalkanku, aku sudah bisa menjalani aktivitasku dengan normal meskipun rasa sakit itu masih ada. Aku juga sudah mempunyai teman baru yang memperhatikanku. Arlen Andrian namanya. Biasa dipanggil El. Dia karyawan baru di kantor tempatku bekerja. Walaupun baru mengenalnya beberapa bulan, kami sudah cukup dekat. Dengah El aku bisa bercerita banyak hal termasuk rasa sakitku di masa lalu.

Malam itu El mengajakku ke sebuah restoran. Restoran ini cukup terkenal karena tempatnya yang nyaman dan makanannya yang enak

“tumben, kamu ngajak aku ke sini?”, candaku

El tersenyum, “ada yang mau aku bilang ke kamu, inn.”

aku mengerutkan kening. Apa yang ingin dikatannya hingga dia harus mengajakku makan di sini? “Oh ya? Apa?”, tanyaku.

“kemarin lusa, ibu tanya ke aku kapan aku akan nikah.”

kerutan keningku semakin bertambah, “Lalu apa hubungannya denganku?”, tanyaku bingung.

El menghela nafas sejenak kemudian tersenyum, “Kalau kamu yang jadi mempelai perempuannya, kamu mau?”

Aku terdiam menatapnya. Apa dia bercanda?

“Aku tahu kamu pasti kaget”, lanjutnya saat aku hanya diam, “aku tidak bercanda, Inn. Aku serius. Meskipun kita belum lama kenal tapi kita sudah dekat dan aku merasa cocok sama kamu. Lagi pula aku juga suka sama kamu.”

Saat itu mendadak aku seperti orang bodoh yang tidak bisa berfikir. Satu hal yang melintas di kepalaku adalah sosok Keane.

Meskipun aku sudah bisa menjalani aktivitasku dengan normal, aku belum bisa melupakannya. Meskipun dia menyakitiku, aku masih tetap mengharapkannya. Cincin yang diberikannya di hari kelulusanku masih kusimpan hingga sekarang.

Akhirnya dengan segala pertimbangan, aku menerima lamarannya. Mungkin banyak yang menganggap ini hanya sebagai pelarian. Tapi aku merasa El adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku.

Di hari pernikahanku, di saat aku sudah resmi menjadi istri El, aku melihat Jessi. Dia berjalan mendekatiku. Anehnya dia datang sendiri, tidak bersama Keane. Ke mana Keane? Apakah dia masih di amerika? Mengapa dia membiarkan Jessi datang sendiri?

“Quinn, selamat ya.”, ucapnya.

aku diam menatap wajahnya. Ada raut kesedihan di wajah itu.

“Quinn, maafin aku sama Keane ya.”

aku tersenyum mendengarnya. Meskipun dia pernah memberikan rasa sakit, aku masih merindukannya, ingin tahu bagaimana kabarnya.

“Keane mana?”, tanyaku.

Kuntanya seperti itu dia malah menangis. “Inn, kau harus tahu kenyataannya. Keane sangat mencintaimu. Tapi dia menyerah karena tahu sisa hidupnya tidak akan lama lagi. Dia terkena leukimia akut. Kau tahu kan, sangat sulit mencari donor sumsum tulang.”, jawabnya sambil terisak-isak.

aku kaget mendengarnya. Tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan.

Setelah mengatakan itu, Jessi memberikanku alamat baru orang tua Keane dan tempat di mana dia dimakamkan. Dia juga memberikan titipan Keane untukku. Sebuah amplop.

“Inn, ini ada titipan Keane buat kamu. Dia menitipkan surat ini ke aku. Dia pesan supaya aku memberikan surat ini ke kamu saat kamu sudah menemukan jodohmu.”

“Quinn, I’m happy for you. Aku pergi dulu, ya.”, Jessi pamit kemudian pergi dengan air mata yang masih menetes di pipinya.

Kubuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah surat.

Dear Quinn,

maaf. Mungkin hanya kata itu yang dapat mewakili kuucapkan. Meskipun aku tahu kau mungkin tidak akan semudah itu memaafkanku yang telah tiba-tiba meninggalkanmu dan mengahancurkan rencana pernikahan kita. Tapi saat ini aku tidak bisa melakukan apapun untuk menebus kesalahanku padamu.

Quinn, melalui surat ini aku ingin berterima kasih padamu. Terima kasih telah menceriakan hari-hariku. Terima kasih karena kau mau berteman dan menjadi kekasihku. Terima kasih karena kau telah menyanyangiku dengan tulus. Dan terima kasih untuk segalanya. Tidak banyak kata yang dapat aku ungkapkan di sini. Tapi aku sangat menyanyangimu.

Quinn, selamat ya atas pernikahanmu. Siapapun dia, aku harap dia bisa menjagamu dan memberimu kasih sayang.

With love,

 

 

Keane Winanda

setelah membaca surat itu, aku sadar ternyata Keane tidak pernah mengkhianatiku. Di dalam amplop itu ternyata juga ada sketsa diriku. Sketsa saat aku duduk di atap gedung pencakar langit menatap bintang-bintang. Hari di mana dia memberiku cincin. Hari yang akan selalu kuingat. Mengingat saat-saat itu, air mataku yang sebelumnya kutahan mati-matian, akhirnya jatuh.

“Quinn,,,”, kudengar suara El di belakangku tapi tubuhku tidak bisa digerakkan. Terlalu kaku. Semua sistem saraf di tubuhku terasa mati.

El menyentuh bahuku pelan dan aku langsung berbalik menghadapnya. Membenamkan wajahku ke dadanya. Menumpahkan seluruh air mataku. Aku tidak peduli apakah ini pantas atau tidak. Tapi hati ini tidak bisa berbohong bahwa aku masih mencintainya.

“El, maaf…”

“Kita jalani pelan-pelan ya, Inn. Aku percaya sama kamu”, jawab El sambil mempererat pelukannya.

Keane, for me, our memories will always gonna be something special in my life. i won’t forget it. because meeting someone like you and also be a part of your life was wonderful thing to me. i never regret it

FIN

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.